Tokyo Hari 1 : Kebingungan, Museum Doraemon dan Speaker Party

Dari dulu saya sudah mengimpikan, pergi ke luar negeri dengan biaya sendiri, jerih payah sendiri, menyiapkan semuanya sendiri. Saya hanya terbayang, pertama kali ke luar negeri mungkin ya Asia Tenggara dulu saja supaya tidak kagok amat, bahasanya minimal sedikit bisa dimengerti. Namun, Takdir berkata lain, saya harus memulai perjalanan internasional pertama saya ke Tokyo, Jepang lewat openSUSE Asia Summit 2017.

Alhamdulillah, saya berkesempatan menjadi Speaker di openSUSE Asia Summit 2017 di Tokyo, Jepang. Sebelumnya saya sudah pernah menuliskan di blog dhenandi.com pada tautan berikut. Semua persiapan mulai dari paspor, tiket pesawat, kelengkapan, asuransi dan tetek bengek nya saya persiapkan sendiri. Eh iya, saya sendiri saat ini masih belum percaya bisa pergi ke Tokyo. Ahsudahlah, sudah terjadi.

Saya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta Kamis,  19 Oktober 2017, izin pulang kantor setengah hari. Karena saya harus memastikan koper yang sudah saya kemas agar jangan sampai ada yang tertinggal.

Hari itu, saya pamit dengan teman-teman PT. Excellent Infotama Kreasindo dan orang tua di rumah. Meminta mereka agar mendoakan saya semoga urusan saya dilancarkan. Perjalanan dari rumah ke Bandara Soeta ditempuh dengan Damri. Alhamdulillah, ada seseorang yang bersedia dan selalu ada untuk saya, dan ia mengantar saya sampai bandara. Dan orang itu adalah …

Saya dan Orang itu

Pertama Kalinya di Terminal 3 Ultimate

Kami datang di bandara sekitar pukul 6, selepas itu kami solat magrib dan berpisah untuk sementara waktu selama satu minggu.

Setelah itu, saya masuk ke Terminal 3 untuk Check In bagasi. Kebetulan pesawat yang digunakan agak elit sedikit “Garuda Indonesia (Kode: GA)” walaupun kelas ekonomi yang penting Garuda Indonesia.

Saat itu masih pukul 7 malam, sementara pesawat berangkat pukul 11.30 malam. Departure Gate baru dibuka 3 jam sebelum keberangkatan artinya baru jam 8.30 dibuka. Kebetulan saat itu saya ternyata satu pesawat dengan beberapa rekan kontingen dari Indonesia. Pak Andi Sugandi, Pak Tony Sabastian, Bu Umul Sidiqoh, dan Kakek Yan Arief.

Sambil menunggu Departure Gate dibuka saya nongkrong bersama pak Andi Sugandi di RotiO Terminal 3 Ultimate. Dan satu persatu teman satu pesawat yang juga ikut datang. Alhamdulillah, Departure Gate sudah dibuka dan kami bersiap untuk boarding.

Karena saya menggunakan e-passpor, ada salah satu keunggulan jika menggunakan e-passpor yaitu ternyata bisa langsung masuk ke autogate tanpa antre. Ketika dicoba masuk autogate ternyata tidak bisa terbuka. Nasib, usia paspor minimal 3 bulan sementara e-passpor saya 2 bulan 28 hari. Dua hari lagi usianya 3 bulan. Terpaksa harus antre agak panjang untuk pengecekan paspor.

Cap! pertama kalinya paspor saya dicap di imigrasi soe-ta. Saya pun diperbolehkan masuk ke ruang tunggu untuk pesawat. Tiba-tiba ada boeing 777 masuk ke gate yang akan saya lewati.

Alamak, ternyata itu pesawat yang akan saya naiki. Boeing 777, keren!

Sembari menunggu, saya jalan-jalan di area keberangkatan untuk melihat-lihat isinya. Maklum, baru pertama kali gaes hehe. Tiba saatnya pukul 11.30, saya take-off dari Jakarta dan berangkat ke Tokyo, yeay!

Boeing 777, Apik!

Walaupun kursi yang saya pesan kursi ekonomi, namun bisa dibilang fasilitas yang ada di GA ini lengkap. Saat duduk di pesawat saya langsung ujicoba semua alat yang diberikan, earphone dan ada papan kontrol yang berisi sekumpulan tombol.

Saya penasaran, semua tombol saya tekan. Tiba-tiba ada pramugari datang menanyakan saya butuh bantuan atau tidak. Saya kaget. Rupanya di papan kontrol tersebut terdapat tombol untuk memanggil pramugari. Alamak, ndeso! Tengsin saya.

Jam 1 malam saya dapat makanan roti dengan label MOML, rupaya itu adalah Moslem Meal. Kebetulan, perut saya lapar.

MOML (Moslem Meal)

Etapi, bayar mahal kok dapetnya begini doang ya? Ah sudahlah, yang penting saya makan.

Ternyata, paginya dapat makan lagi. Sepertinya nasi uduk ala Garuda Indonesia. Alhamdulillah.

Nasi Uduk

Setelah makan kenyang, matahari perlahan muncul. Ini pertama kalinya saya lihat sunrise diatas awan. Keren bung! Dan kalau gak salah pesawat masih berada di Filipina. Ambil jalur putar karena ada typoon. Disini saya bisa melihat pemandangan antara dua bagian dunia yang masih malam dan yang sudah pagi dari atas awan. Subhanallah, Maha Besar Allah dengan semua ciptaannya.

Sunrise dari atas pesawat

Walaupun memutar, ternyata pesawat landing sesuai dengan waktunya. Sekitar jam 8 waktu jepang. Perjalanan kalau dilihat memakan waktu hanya 6 jam karena Jepang 2 jam lebih cepat daripada Indonesia. Tapi, mau 8 jam atau 6 jam, yang penting saya selamat sampai di Tokyo. hehe

Hello Tokyo, Jangan Lupa Summimasen!

Sampai Di Tokyo, sempat ditakutkan sama beberapa pengalaman teman-teman yang kena random check di imigrasi. Tapi, sambil pasang muka senyum. Alhamdulillah, lolos tanpa kendala. Rezeki anak soleh memang.

Welcome to Tokyo!

Setelah keluar dari pintu kedatangan. Saya, Pak Tony, Pak Yan dan Pak Andi berpisah karena beda hotel. Mereka naik bus ke chofu, sementara saya dan Bu Umul harus berjuang naik kereta ke Hachimanyama, tempat saya dan teman-teman GLiB menginap.

Karena Bu Umul dan saya sama-sama gak tahu, dan hanya dikasih petunjuk untuk beli pasmo dan disuruh naik dari Haneda, turun di Shinagawa, Transit ke jalur lain, Turun lagi di Shinjuku, baru ke Hachimanyama.

Ternyata, stasiun dan kereta di Jepang ini banyak dan luas bingit!

Sebelumnya saya sudah baca-baca perihal kereta di Jepang. Ternyata memang, buanyak. Buat yang pertama kali kagok banget. Apalagi saya dan Bu Umul bawa Koper yang isinya masih berat.

Sampai stasiun Shinagawa, ternyata kami transit di JR Yamanote Line, walah. Itu jalur tersibuk kereta di Jepang yang jalur nya berbentuk lingkaran warna hijau. Alhasil sembari bawa koper kami desek-desekan.

Sampai Stasiun Shinjuku, kami bingung mencari jalur untuk transit ke Keio Line. Rupanya, fakta menunjukan kembali kalau Stasiun Shinjuku adalah stasiun terbesar di Jepang.

Karena sudah capek, bawa koper. Kami duduk dan tiba-tiba ada pria menghampiri saya dan berkata kurang lebih kalau diterjemahkan dalam Bahasa begini :

Kelihatannya saya lihat kamu sedang kebingungan, ada yang bisa saya bantu?“.

Dalam hati “Terima kasih ya allah, pertolonganmu bisa datang dari mana saja“.

Saya langsung bilang ke pria tersebut, bahwa kami mencari jalur Keio Line untuk ke Hachimanyama.

Pria tersebut menunjukan jalan ke saya untuk menuju lokasi tersebut dan menunjukan kereta mana yang harus dinaiki.

Jadi, di Jepang ada 2 jenis kereta commuter yang harus diperhatikan. Yaitu ada kereta Express dan Local.

Kereta Express ini adalah kereta yang cepat karena tidak berhenti di stasiun kecil sementara kereta dengan tulisan Local berhenti di setiap stasiun kecil. Nah, Hachimanyama ini posisinya adalah stasiun kecil. Jadi saya harus menaiki kereta dengan tulisan Local.

Kalau bingung, tanya! Jangan lupa summimasen (permisi). Sejak itulah saya mulai jatuh cita dengan kota di Jepang.

Museum Fujiko F Fujio

Saat perjalanan menuju Stasiun Hachimanyama, tiba-tiba teman-teman GLiB yang sudah datang lebih dahulu dihari sebelumnya menelpon saya apakah hendak ikut ke Museum Doraemon atau tidak. Harapannya, sampai sini bisa istirahat dulu kemudian baru berangkat. Ternyata Museum Fujiko F Fujio Doraemon hanya buka sampai jam 4 sore.

Yasudah, sampai di Hachimanyama saya langsung dijemput dan jalan ke penginapan untuk menaruh barang, setelah itu berangkat lagi.

Dari Hachimanyama kami langsung menuju ke Noborito Stasiun, saya lupa transit dimana saja. Karena saking lelahnya, saya lebih banyak tidur di kereta.

Stasiun Noborito

Rencananya, kami hendak naik bus ke Museum tersebut. Hanya saja bus yang ditunggu nggak kunjung datang. Jika dilihat dari maps, lokasinya tidak jauh dari Stasiun Noborito, hanya 2 kilo, hanya lho!

Orang Jepang mah sudah terbiasa jalan kaki. Saya yang tadinya mengantuk, karena menghirup udara di sana sangat bersih dan sejuk. Jadi semangat untuk berjalan kaki. Asyik!

Jalan Kaki dengan Teman GLiB

Melihat pemandangan yang ada pun bikin semangat naik, bersih!

Bantaran Kali di Jepang

Museum Fujiko F Fujio bisa terlihat dari foto diatas ditengah gambar terdapat tembok coklat, putih dan kaca. Sesampainya di sana kami masuk.

Di museum ini ada ketentuan terhadap pengunjung, di mana dibeberapa level tidak diperbolehkan untuk mengambil foto. Dan kami hanya diberi guide oleh telepon pintar yang isinya informasi perihal seputar karya-karya Prof Fujiko F Fujio. Namun, dibeberapa ruangan kami boleh untuk mengambil gambar, berikut beberapa gambar :

Teman-teman GLiB dan Giant
Kue Dorayaki Doraemon, Asli!
Saya di Jembatan atas Museum Fujiko F Fujio
Saya lagi, bersama Doraemon 😀

Speaker Party!

Setelah menghampiri museum ini, kami langsung bergegas ke speaker party. Sebelum acara inti dimulai, Jum’at malam para pembicara diundang oleh panitia lokal agar saling mengenal satu sama lain. Cus, saya dan teman-teman langsung menuju UEC Chofu.

Sampai di stasiun Chofu, saya dan teman-teman menunggu Pak Tony yang berada di hotel. Sembari menunggu, jangan lupa jepret.

Saya di Chofu

Sampai di acara ternyata dari Indonesia datang terlebih dahulu dibanding pembicara lainnya. Disana saya banyak bertemu orang-orang keren di openSUSE yang hanya bisa bercengkrama di dunia maya. Ternyata sekarang kesampaian berbicara langsung, tentu kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Saya bertemu dengan Chairman openSUSE, Richard Brown, Ana Maria, Sakana Max, Dr. Takeyama, dll. Selain itu, saya juga dibagikan kaus openSUSE Asia Summit beserta nametag.

Kaus openSUSE Asia Summit
Para Pembicara di openSUSE Asia Summit 2017

Malam itu berlangsung sangat hebat, insipirasi dan semangat kontribusi saya berlipat-lipat. Namun jangan lupakan hari esok. Saya akan tampil di Mainhall openSUSE Asia Summit 2017 untuk membawakan materi Docker Registry dengan Portus :-).

Bersambung …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *