Revisi Lagi, Revisi Lagi, Revisi Terus

Jika mendengar kata “REVISI” yang ada dipikiran saya biasanya perihal skripsi. Di mana saat itu dosen hobinya corat-coret riset atau tulisan yang sudah dibuat oleh mahasiswa. FYI, saya sendiri belum merasakannya, sekitar 3 tahun lagi mungkin, Insya Allah, Aamin.

Di minggu-minggu ini saya sedang disibukkan perihal revisi, revisi apa? revisi jalan hidup. Mungkin.

Ndak, saat ini saya sedang disibukkan revisi buku yang saya buat. Buku Next Generation Firewall Berbasis Untangle. Buku yang mengupas tuntas tentang Untangle serta tetek bengeknya. Bukunya sudah jadi minggu kemarin dan sudah dipakai untuk pelatihan. Hanya saja masih dalam bentuk print out dan saya sendiri masih belum pede untuk dicetak dalam bentuk buku.

Setelah dilakukan review selama training, ternyata buku ini memang benar-benar banyak salah ketiknya, penjelasan yang rancu, dsb. Itu yang membuat saya kurang pede.

Terpaksalah, harus revisi. Gak boleh malu-maluin, harapan saya pembeli dan pembaca bisa memahami Untangle dari sisi fundamentalnya maupun penggunaan.

Setelah training saya putuskan untuk memulai. Metodenya, softcopy nya saya edit begitu saja, satu persatu memperbaiki kesalahan yang ada. Yang jadi masalah, sampai hari ini belum selesai. Puyeng! ngerjainnya siang malem, gak selesai-selesai.

Revisi bagus, tapi kalau revisi terus gak berhenti, ya berarti saya harus tanya sendiri ke diri. Apa yang salah?

Ternyata yang jadi permasalahan, saya gak fokus. Periksa bukunya loncat-loncat halaman ke halaman, dan kalau ada kata-kata atau penjelasan yang rancu kemudian googling, buka Wiki Untangle. Kemudian ada notifikasi dari tab browser sebelah. Macam-macam, entah artikel, email kantor, watsap, Telegram, dll. Akhirnya fokus buyar, entah karena kerjaan atau hal yang lain.

Mulai Corat-Coret!

Beberapa waktu yang lalu, Pak Sokibi. Salah satu senior saya di Komunitas Open Source di Indonesia menggarap buku “Menulis Buku dengan LibreOffice Writer“. Beliau bisa dibilang memang penulis dan kontributor kondang, karyanya banyak. Buku Inkscape, Panduan BlankOn pun digarapnya dengan rapih dan bagus.

Saat beliau sedang menggarap buku tersebut, tahap finalisasi yang dilakukan adalah mencetak sample buku yang sudah dibuat. Membaca seluruhnya dan corat-coret tulisan yang perlu diperbaiki dengan yang seharusnya. Baru kemudian melakukan revisi pada dokumen. Saya lihat dalam salah satu statusnya seperti itu.

Saya jadi kepikiran. Akhirnya saya terapkan ke buku yang sedang saya garap juga. Kebetulan ada modul yang sudah dicetak untuk jatah saya memberikan pelatihan kemarin. Bermodalkan pulpen, saya baca kembali buku tersebut dan mulai corat-coret tulisan yang salah ketik dan penjelasan yang rancu.

Ternyata ampuh!

Dengan ini saya merasa lebih produktif untuk melakukan revisi, mata saya terfokus untuk membaca hanya pada tulisan yang ada pada buku saja. Fokus!

Halaman per halaman dibaca, kesalahan sangat mudah untuk ditemukan. Dan menulis kata-kata yang harus diubah. Dalam waktu satu hari ini, saya bisa menemukan banyak tulisan yang harus direvisi pada buku disemua halaman. Hebat!

Ini contohnya :

Revisi
Revisi Lagi

Namun tidak menutup kemungkinan juga saya bisa melewatkan kata-kata yang salah. Hanya saja, di Excellent sendiri konsepnya sama seperti Microsoft: “Release early, release often“. Rilis terlebih dahulu, minimal sudah bisa digunakan dan kesalahannya atau kutu-kutunya sedikit, baru kemudian diperbaiki lebih baik. Harapan saya di sabtu atau minggu ini bisa selesai dan senin sudah naik cetak.

Jika tertarik pesan, tunggu di lapak PT. Excellent Infotama Kreasindo, ya!

Semoga berhasil, semangat pejuang revisi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.