Rencana Mudik ke Kampung Halaman

Beberapa waktu yang lalu, saudara saya di kampung. Tante alias bu’le menelpon ibu saya. Mereka menyampaikan rasa kangen mereka kepada keluarga kami yang ada di Bekasi. Mereka bertanya apakah liburan pergantian tahun bisa main ke Tegal atau tidak. Karena kami hampir 3 tahun sudah tidak menengoknya. Terakhir, lebaran tahun 2015/2016. Saya lupa.

Tante ini orang yang sangat ramah, yang mengajarkan pentingnya sopan santun kepada saya selagi masih kecil. Dahulu, saat saya masih menginjak di jenjang sekolah dasar. Saya pernah liburan ke Tegal, sendiri. Selama satu minggu. Ayah saya yang mengantar, kemudian ia balik ke Bekasi. Saya ditinggal. Sendiri.

Selama di Tegal. Tante saya yang selalu mengawasi apa yang saya lakukan. Karena dulu saya tipikal anak yang bandel. Saya kerap sekali dimarahi karena kelakuan saya yang bikin pusing saudara-saudara dari ayah saya.

Pernah waktu itu, saya melakukan kesalahan. Sehingga membuat tante saya marah, dan saya melawannya. Bandel, mengucapkan kata yang mungkin kasar dan menyakiti hati tante saya. Waktu itu saya masih kecil sekali, belum mengerti apa itu sopan santun.

Kejadian itu membuat saya dicubit, sesakit-sakitnya. Cubitan tante ini sangat sakit. Emposannya membuat tangan saya jadi merah. Sembari saya di empos, saya diomeli oleh tante. Kemudian dinasehati selama kurang lebih 2 jam.

Saya takut, karena saat tante berbicara dengan mata melotot. Yang menandakan benar-benar marah. Tapi di balik itu semua, di akhir pembicaraan ia menasihati saya. Agar selalu menghormati orang yang lebih tua. Terutama orang tua sendiri dan nenek dari ibu saya yang ada di rumah. Karena tante sudah tau dari orang tua saya, kalau saya bandel dan nakal di rumah. Suka melawan.

Nasihat itu, membekas sampai sekarang. Dan sangat terpakai di segala aspek kehidupan saya. Skill tanpa diimbangi attitude atau sopan santun. Mungkin, tidak akan berguna. Skill penting. Namun, sopan santun dan norma-norma yang ada di kehidupan juga penting. Semua saling beterkaitan. Saat melamar pekerjaan, atau sesama rekan yang ada di lingkup pekerjaan.

Saya sadari, saya sendiri kadang suka songong dengan senior atau rekan-rekan yang ada di kantor, habisnya ngeselin sih :-P.

Atas pertimbangan itu. Saya memenuhi panggilan tante untuk berlibur. Hanya saja, ayah saya tidak bisa ikut karena masih ada pekerjaan yang belum terselesaikan. Ibu juga. Tidak enak, jika ayah saya nanti sendiri. Mungkin mereka mau seperti anak muda lagi.

Akhirnya, yang akan berangkat hanya saya dengan adik-adik saya. Bertiga. Saya yang akan mengawasi mereka. Tentu ini tanggung jawab yang sangat besar. Harus menggantikan posisi ayah saya. Tapi hitung-hitung latihan sebelum punya anak yang sesungguhnya nanti :-P.

Semua persiapan pun sudah saya siapkan. Dari tiket kereta pulang, tiket berangkat (tidak bisa dibooking), itinerary, dan perlengkapan insyaallah sudah siap. Bahkan saya sendiri rela beli tas carrier 50 L untuk perjalanan ke Tegal nanti (Untuk dipakai ke prau juga sih :D). Karena saya tipikal backpacker, bukan traveller. Backpacker rata-rata menggunakan carrier. Traveller menggunakan koper. walaupun tidak serta merta begitu :D.

Rencana, kami akan berangkat di minggu pagi menggunakan bis. Dan pulang di hari Kamis, tanggal 27 Desember 2018.

Harapannya semoga berjalan dengan lancar, selamat sampai tujuan dan kembali dengan utuh.

Tujuan utama saya ke Tegal, selain melepas rindu dengan saudara. Saya juga ingin mengajarkan ke adik-adik saya yang perempuan ini agar berani keluar, keluar dari hal yang mungkin tidak pernah mereka lakukan.

Karena akhir-akhir ini saya sering minum good day di kantor, saya jadi terinpirasi slogannya. “Karena hidup, punya banyak rasa”. 😀 (Apasih). Tunggu di cerita selanjutnya ya :-).



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.