Perpustakaan Nasional Indonesia dan Masjid Istiqlal

Gedung baru Perpustakaan Nasional RI (perpusnas) sudah dibuka secara resmi sekitar pertengahan September 2017. Bagus, tinggi, dan megah. Perpustakaan ini adalah perpustakaan tertinggi di dunia dan terbesar se-Asia. Terdiri dari 24 lantai dan museum  terpisah seputar perpustakaan saat pertama kali kita masuk kesini.

Lokasinya terdapat di Jalan Medan Merdeka Selatan, depan monas persis. Dekat dengan Balai Kota Jakarta, dan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas).

Sebenarnya, saya sudah sempat berkunjung, sebelum diresmikan. Karena belum diresmikan, saya mengunjungi gedung lama di Jalan Matraman. Sampai sana ternyata untuk pelayanan sudah dipindah semua ke gedung yang baru, yang di Jalan Merdeka Selatan itu, yang katanya tertinggi se-Asia itu. Apesnya, ketika pergi kesana ditahan oleh satpam. Gedung itu belum bisa dibuka untuk umum, karena belum diresmikan.

Ya, sudah, saya harus mengurukan niat dan menundanya sampai waktu yang belum bisa ditentukan.

Beberapa bulan berlalu, dan telah berganti tahun. Saya juga belum mengunjungi perpusnas itu. Belum sempat, sok sibuk, sok tahu juga karena saya pikir perpusnas hanya buka di hari kerja.

Finally, saya bersama Ahmad Sofyan dan Muammar Khadafi (bukan peresiden Libya) memutuskan untuk pergi ke Perpusnas Indonesia, untuk balas dendam yang gagal lalu. Yang sudah diresmikan. Dan sudah bisa dikunjungi secara umum. Mereka adalah rekan seperjuangan saya sejak MTs, namun kami masih sering berkomunikasi dan bersilaturahim ketika mereka pulang ke Bekasi. Kebetulan mereka menjalani studinya di luar kota. Ahmad Sofyan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Ilmu Perpustakaan dan Muammar Khadafi kuliah di Universitas Brawijaya Malang jurusan Psikologi. Sangat kebetulan bagi Sofyan, ia pustakawan. Namun belum pernah ke perpusnas.

Berangkat ke Perpusnas

Sebelum berangkat kami mendaftar dulu untuk persyaratan pembuatan kartu anggota perpustakaan secara online di tautan berikut: http://keanggotaan.perpusnas.go.id/daftar.aspx.

Untuk kelokasi, kami berangkat dari Stasiun Cakung, turun di Stasiun Gondangdia kemudian jalan hingga ke Perpusnas yang ada didepan monas itu. Melewati bermacam-macam gedung. Gedung kedubes Amerika, yang gedung tambahannya sedang dibangun. Gedung Wakil Presiden Indonesia yang saat ini ditempati Pak Jusuf Kalla. Gedung Balai Kota yang saat ini ditempati Pak Anies Baswedan dan Gedung Lemhanas yang saat ini ditempati pak Lejen (Purn) Agus Widjojo. Saat itu ramai, karena masih suasana halal bihalal setelah Idul Fitri, seperti sedang ada open house.

Sampai di Perpusnas Indonesia

Akhirnya, kami tiba di perpusnas Indonesia, sekitar pukul 10.30 WIB, hanya punya waktu sedikit untuk berkunjung sebelum shalat Jum’at. Yang terbesar se-Asia itu. Sampai pintu gerbang kami diarahkan oleh petugas keamanan untuk masuk ke perpusnas, dengan ramah.

Sebelum masuk ke Gedung Perpusnas yang tinggi itu. Kami melewati museum perpustakaan terlebih dahulu. Isinya bermacam-macam dan sudah canggih karena sudah menggunakan layar LED dan beberapa teknologi lainnya. Sayang, saya tidak terlalu banyak foto-foto di museum.

Setelah melewati museum, barulah kita akan dihadapkan dengan gedung Perpusnas Indonesia. Yang tertinggi sedunia, yang nama digedungnya ada beberapa bahasa.

Titip Tas dan Buat Kartu Anggota

Sebelum membuat kartu anggota, kami menitipkan tas diloker terlebih dahulu. Kebetulan di Perpusnas kita tidak diperbolehkan untuk membawa tas pribadi. Jadi harus dititipkan terlebih dahulu di loker. Namun, apabila kamu membawa laptop. Kamu bisa meminta tas jinjing perpusnas untuk membawa laptop beserta kelengkapannya. Yang penting, kunci loker jangan sampai hilang. Kamu tidak akan bisa membuka lokernya.

Setelah menitipkan barang, kami pergi ke lantai 2 untuk melakukan pendaftaran anggota. Prosesnya cukup mudah, cukup masukkan nomor setelah kita melakukan pendaftaran secara online. Maka kita akan mendapat nomor antrian, dan hanya perlu menunggunya.

Proses setelah menunggu cepat sekali, tidak sampai 3 menit. Kartu anggota sudah jadi dan dapat digunakan langsung untuk mengunjungi lantai yang ada di perpus ini.

Karena waktu sangat mepet mendekati shalat Jum’at. Dan perjalanan menuju istiqlal lumayan jauh. Kami mengunjungi beberapa lantai dahulu untuk sekedar melihat.

Lantai yang pertama kami kunjungi adalah lantai 24, dimana berisi buku-buku nusantara. Pokoknya isinya tentang Indonesia. Keanekaragaman, budaya dan segala macem. Di lantai 24 ini ruangannya cozy, interiornya bagus dan terdapat karpet. Secara psikologis bisa membuat relax si pembaca.

Selain itu, disini kita bisa melihat pemandangan dari lantai teratas Perpustakaan Nasional RI. Kita dapat melihat monas secara langsung lewat pintu depan. Dan pemandangan sekitaran Gondangdia di pintu belakang. Oh ya, jangan lupa. Untuk membaca atau bekerja disini kita harus menitipkan kartu anggota perpustakaan terlebih dahulu. Setelah selesai kita dapat mengambilnya kembali.

Selanjutnya kami mengunjungi lantai 21, dan 22. Kebetulan di lantai ini berisi buku-buku umum. Bermacam-macam sesuai kategorinya. Lantai 21 ini memiliki tangga khusus ke lantai 22, jadi kita bisa langsung ke lantai 22 tanpa harus melalui lift. Oh ya, di perpus ini setiap pengunjung diwajibkan menggunakan lift. Tidak ada tangga biasa, hanya ada tangga darurat.

Hampir setengah 12. Kami bergegas untuk turun dari perpus dan Shalat Jum’at. Kebetulan sekali, ada bis tingkat yang menuju ke Masjid Istiqlal. Jadi kami naik bus tersebut, gratis.

Sampai di Istiqlal kebetulan kami agak telat. Khutbah sudah naik mimbar, tapi yasudahlah. Mau diapakan lagi. Ternyata busnya ini muter ke Bunderan HI dulu.

Setelah Shalat Jum’at kami memutuskan untuk langsung kembali ke perpus, mengunjungi lantai yang menarik untuk dikunjugi. BTW, kali ini gak bisa naik bis tingkat. Sangat penuh. Jadi kami memutuskan jalan kaki dari Istiqlal ke Perpus. Lumayan, biar kayak Orang Jepang. Salah satu yang kami lalui adalah monas.

Nah, dari situ sangat kelihatan gedung Perpusnas nya. Gedung paling kiri adalah gedung Perpusnas.

Sampai di perpus. Kami coba mengujungi lantai Audio visual. Ternyata keren. Disini banyak sekali orang yang menonoton film di komputer, gratis. Lewat CD/DVD yang telah disediakan.

Dan beberapa lantai pun, kami kunjungi seperti koleksi buku langka di lantai 14, dll. Sayang sekali, saya tidak mengabadikan momennya. Terakhir, saya dan teman-teman kembali ke lantai 21 untuk membaca beberapa buku dan browsing di Internet lewat Wi-Fi perpus.

Sekitar pukul 16.00 kami memutuskan untuk pulang. Walaupun lelah, namun terbayar. Berkunjung ke perpus ini sangat menambah semangat membaca. Recharging the spirit.

Karena mudah dijangkau dengan kereta, sebisa mungkin di hari libur saya bisa berkunjung kesini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.