Kurang Piknik, Ngabisin Bensin!

2 bulan ini, bulan yang kurang bagus buat saya. Sangat kurang bagus. Mengerjakan sesuatu yang berulang. Yang tidak menambah ilmu.

Parah. Sepertinya saya memang butuh piknik. Sudah lama saya tidak piknik. Tujuannya, menghidupkan kembali semangat saya. Karena akhir-akhir ini yang sangat tidak bergairah.

Hari rabu, saya pulang cepat dari biasanya. Menyelesaikan tugas sebagaimana mestinya. Kemudian langsung pulang karena ada suatu urusan. Walaupun tidak terlalu penting.

Akhirnya saya pulang, namun saya merasa sepertinya ada yang tidak beres. Saya belum sadar apa itu. Belum tahu, namun ada yang sesuatu yang tidak beres.

Saya bergegas pulang tengggo. (teng langsung go). Langsung memacu beat pop merah. tanpa memikirkan apapun. Dengan kecepatan santai, sambil membayangkan gimana supaya pekerjaan saya yang repeat ini bisa lebih cepat selesai. Memikirkan algoritmanya yang baik gimana. Karena saya pikir sendiri ini sudah terlalu lama. Hampir sebulan.

Sekitar 90%, hampir sampai rumah. Saya baru sadar, dompet saya tidak ada. Sepertinya tertinggal di markas. Saya lupa. Karena “seingat saya” waktu itu saya buka dompet saya untuk mengambil uang. Untuk nitip beli jus ke Fathul. (Fathul ini bos saya soal urusan rumah tangga excellent). Asumsi saya demikian, ada di markas.

Akhirnya saya coba Telegram di grup tim, nitip pesan kepada teman-teman yang masih ada di markas. Tidak ada yang balas. Waduh, bisa berabe ini.

Karena di dompet ada SIM, STNK motor. Khawatir kena tilang saat perjalanan. Akhirnya dengan terpaksa dan menyesal. Saya kembali ke markas. Sambil ngedumel, kenapa saya sendiri bisa lupaan.

Waktu sudah hampir mau magrib, saya bergegas untuk memutarbalikkan arah motor saya. Bergegas lebih cepat untuk sampai ke markas. Bukan buru-buru. Tapi agak lebih cepat saja dari biasanya. Khawatir teman-teman sudah berangkat kuliah.

Benar saja, saat saya sampai. Waktu sudah magrib lebih, dan teman-teman sudah bergegas. Sampe markas, saya langsung cari dompet saya.

Tidak ketemu.

Saya tanya beberapa rekan di markas, tidak ketemu juga.

Saya bingung, ada di mana. Karena seingat saya di kantor.

Akhirnya, saya memutuskan minta tolong untuk buka CCTV. Melihat aktivitas log.

Tidak ada juga!

Buset, ini ada di mana dompet. Kalo bisa di miscall, saya miscall dah.

Yang ada dipikiran saya, bukan duitnya (karena tidak ada :-P). Tapi KTP nya. Bikin KTP lama coy, nunggu setahun lebih.

Yasudah, saya pasrah. Shalat maghrib. Berharap pencerahan datang. Berharap ingat ada di mana.

Sampai tiba, waktu sudah masuk untuk berangkat kuliah. Saya harus menepikan dompet saya ada di mana terlebih dahulu. Fokus untuk kuliah.

Dari markas, saya berangkat dengan rekan 1 kampus. Santai, seperti tadi sore pulang ke rumah.

Sampai parkiran, saya menghela nafas. “Fyuuuh“. Sambil menaruh masker, peci di bagasi motor depan saya.

Ternyata! Dompet ada disitu, buset dah.

Ini, jadi bikin greget. Nganuuu. Saya bela-belain jauh, balik ke markas lagi. Hasilnya gak ketemu. Ternyata karena lupa naruh. Ada di bagasi motor. Ngabisin bensin!

Saya anggap bensin itu sebagai biaya pembelajaran. Supaya lebih teliti lagi. Tidak mudah lupa. Lebih menyimpan barang sendiri lebih baik.

Ternyata saya baru ingat. Saat ISHOMA DZUHUR. Saya nitip ke Fathul untuk beli makan siang, karena sekalian ia juga pengen beli.

Waktu itu saya buka dompet di masjid. Dompet saya pegang, dan tidak saya masukkan ke kantong. Saya jalan ke parkiran. Dan masukkan dompet ke bagasi motor depan.

Jadi, itu dompet. Ada di bagasi dari siang. Saya geleng-geleng kepala, tepok jidat. Allah masing sayang sama saya. Dompetnya tidak hilang. Alhamdulillah.

Pesannya: Jangan sampai kayak saya ya, yang mudah lupa. Mudah lupa segala sesuatu. Satu yang gak saya lupa. 4 tahun lagi 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.