Kamu Lemah, Dhen!

Ini pertama kalinya lagi dalam 13 tahun, saya bolong puasa Ramadhan. Rasanya tidak terima. Ingin mejerit. Rasa bersalah ini terlalu menghatui pikiran maupun kalbu. Selalu berkata, dan semakin merasa saya tidak pantas masuk surga. Tentu ini bukan kesengajaan, atau kehendak yang diinginkan. Bagi saya, bulan Ramadhan ini adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu. THR nya (upsss..).

Bercanda. Tidak, Bulan Ramadhan ini bulan yang sangat dirindukan dan ditunggu-tunggu. Bukan hanya untuk saya, namun bagi kaum muslimin. Semua semestinya bersuka cita, begitupun saya. Seharusnya.

Sebelum puasa pun, banyak rencana yang hendak dilakukan. Tarawih Full, Khatam Alqur’an, terutama puasa yang full. Puasa yang benar-benar puasa.

Nasib malang, hari kedua puasa setelah shalat Jum’at, tiba-tiba kepala saya pusing, suhu badan naik. Tidak dapat berbuat apa-apa. Sayapun minta izin ke pak boss untuk istirahat tidur di pendopo kantor karena tidak kuat dengan AC. Karena saat itu puasa, tidak bisa minum obat. Hanya bermodalkan obat oles freshcare dengan harapan pusing dan panas bisa turun setelah tidur.

Nyatanya tidak, setelah bangun pusing dan panas masih terasa bahkan dapat tambahan, mual. Saya sangat khawatir, ini dapat membatalkan puasa. Sudah tidak kuat. Saya memutuskan untuk pulang. Beruntung, jam pulang dipercepat dan bisa langsung kerumah untuk meneruskan istirahat sembari menunggu buka puasa. Saat itu saya masih berpikir :

Ah, ini cuma efek kelelahan. Setelah buka puasa, paling sembuh..

Ternyata benar, setelah berbuka badan saya kembali segar, sedikit. Karena belum terlalu fit, tarawih dirumah. Dan berharap esok tetap bisa puasa.

Malam itu saya berusaha tidur cepat. Benar saja, saya tidur cepat. Namun jam 11 malam terbangun. Suhu badan naik kembali. Saya tidur sendiri dan tidak ada orang tua. Mereka tidur di rumah sebelah sembari momong anak tetangga. Tidak ada yang dapat saya mintai tolong. Saya memutuskan tidur kembali.

Setiap 1 jam sekali, saya terbangun. Amsyong. Mimpi buruk, pokoknya mimpi yang tidak mengenakkan.

Update : Cerita soal mimpi buruk dihapus. Saya baru tahu, kalau mimpi buruk itu tidak boleh diceritakan sesuai hadis Rasulullah SAW. (http://www.kabarmakkah.com/2016/03/kenapa-mimpi-buruk-tidak-boleh-diceritakan-pada-orang-lain.html)

Mimpi itu selalu berulang, setiap bangun nafas selalu ngos-ngosan. Kembali lagi, tidak ada yang bisa saya mintai tolong. Sendiri, dan saya sangat ketakutan. Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk kembali tidur.

Jam 4, saya dibangunkan orang tua untuk sahur. Tapi, suhu badan saya tambah naik. Mungkin karena kepikiran mimpi itu. Orang tua saya khawatir, saya disuruh sahur tapi tidak mau. Karena nafsu makan tidak good.

Tapi saya tetap sahur, karena dipaksa. Menunya tongseng. *Tepokjidat. Alamat tambah pusing makan beginian. Mau tidak mau, saya harus makan. Walaupun hanya 2 suap. Setelah itu, diberi paracetamol sisa adik saya sakit kemarin. Karena belum ada warung yang buka untuk beli obat. Dengan modal tersebut, saya melanjutkan puasa.

Setelah shalat shubuh, saya memutuskan untuk tidur. Karena tidak sanggup untuk melakukan sesuatu. Bahkan, sekalipun memegang gadget. Saya tidak kuat.

Puncaknya, sekitar jam 11. Saya bangun dan bersiap untuk shalat zuhur. Ternyata, pusing. Semacam vertigo, serasa pingin jedotin kepala ke tembok. Pusing tujuh keliling.

Belum pernah saya rasakan ini sebelumnya. Karena tidak kuat, saya memutuskan tidur kembali sembari menunggu azan.

Adzan berkumandang, saya bangun kembali. Kini giliran pinggang terasa sakit. Semua terasa lengkap: pusing, panas, sariawan, pinggang sakit jadi satu.

Alhamdulillah, setelah shalat zuhur pinggang saya sembuh. Tapi, panas dan pusing semakin liar. Tidak terkontrol. Orang tua saya menyuruh untuk membatalkan puasa saja. Saya tidak mau. “Tanggung” sembari menjerit.

Orang tua malah semakin khawatir. “Sudah batalkan saja“, pendirian saya tidak mau batalkan puasa. Malu kalau batal, laki-laki macam apa, puasa saja batal.

Saya kepikiran kata-kata dimimpi semalam, kalau saya lanjutkan. Bisa-bisa gawat.

Akhirnya, saya menyuruh adik saya untuk mencari beberapa dalil yang memperbolehkan orang yang sakit untuk membatalkan puasa supaya lega. Ternyata ada :

Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al Baqarah: 185)

Ada beberapa kategori orang yang diperbolehkan membatalkan puasa, saya tidak akan menjelaskannya. Pokoknya, saya ada disalah satu kategori tersebut.

Yasudah, dengan merasa bersalah. Puasa saya jebol, setelah umur 7 tahun, pertama kalinya puasa tanpa bolong dan seterusnya. Dan kini, setelah 13 tahun hal itu terulang.

Saya sangat merasa bersalah, tidak dapat memaafkan diri sendiri. Namun, saya sendiri tidak berdaya. Ingin menangis rasanya, tapi tidak ada yang bisa dilakukan.

Life must goes on, setelah Ramadhan selesai saya harus segera menggantinya. Apapun yang terjadi.

Sorenya, saya pergi ke dokter bersama bapak. Diperiksa oleh dokter, ternyata saya ada penyakit magh. Saya sendiri tidak tahu, dan baru tahu saat itu juga.

Sebelum terjadi apa-apa dokter memberi saya obat yang saya butuhkan, untuk pusing, panas, sariawan dan salah satunya magh. Dokter juga menyarankan kalaupun malam ini sehat, saya tidak dianjurkan untuk puasa esok hari. Karena bisa berimplikasi terhadap lambung.

Saya sendiri belum tahu, besok puasa atau tidak. Yang pasti saya usahakan puasa.

Dokter bilang harus banyak istirahat. Kamu memang sedang lemah. Jangan dipaksakan.

Terpaksa, saya harus absen di kuliah malam ini. Bahkan, salah satu teman saya sedang berduka, neneknya meninggal. Saya tidak dapat ikut untuk Ya’sinan. Padahal rumahnya dekat.

Saya sangat merasa bersalah, merasa “kamu lemah, dhen”, cemen, payah, norak. Masih merasa tidak terima karena puasa batal. Sampai artikel ini selesai ditulis saya masih tetap tidak terima, dendam.

Dan, saya masih kepikiran dengan kata-kata yang ada dalam mimpi. Sesuatu yang tidak lucu dan tidak bisa dianggap remeh.

Namun, allah yang maha megetahui, lagi maha menyembuhkan. Harapannya semoga besok bisa kembali seperti sedia kala. Meneruskan puasa, sebagaimana muslim lainnya diseluruh dunia. Dan berharap ini bukan hari terakhir. Saya benar-benar belum siap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.