Dewi Sri, Kita Putus!

Hari ini saya mudik, memutuskan untuk meninggalkan bekasi sementara waktu. Meninggalkan dia juga yang merindukan untuk sementara waktu.

Tegal, kota kelahiran ayah saya ini memang selalu ngangeni. Meskipun saya sendiri hanya kaum urban pinggiran ibu kota yang hanya sesekali datang dalam jangka waktu beberapa tahun.

Keharmonisan keluarga di sana, saudara-saudara dari keluarga ayah saya ini tidak bisa digantikan. Tegal akan selalu menjadi rumah ke tiga saya, setelah Dia, dan Bekasi.

Hari ini, saya berangkat. Dari Bekasi, pagi sekitar setengah 7 ke terminal modern pulogebang. Saya kok masih kurang sreg dengan namanya terminal modern ini. Pemesanannya hanya bisa dilakukan di hari H. Saat keberangkatan. Beberapa hari yang lalu, bahkan mungkin minggu. saya sudah duluan ke terminal ini. menanyakan apakah ada tiket yang tersedia untuk kami.

Ternyata, jawaban sang petugas. Disini tiket harus pesan saat berangkat saja. tidak bisa dipesan. Ya okelah, berarti saya kesini hanya buang uang dua ribu untuk tukang parkir. Yang parkirnya sendiri gak sampai 10 menit.

Kebetulan armada yang saya gunakan biasanya Dewi Sri. Dewi sri sudah menemani saya sejak masih kecil. memang sudah lama saya tidak naik Dewi Sri. Karena itu saya lebih memilih armada utama saya ke Dewi Sri. Sebenarnya ada 2 pilihan, pilihan keduanya Sinar Jaya. hanya saja saya mempertimbangkan Dewi Sri sebagai armada utama saya. Banyak kenangannya.

Saat saya ke terminal di hari sebelumnya, karena tidak bisa pesan tiket di hari sebelumnya. Saya meminta kontak untuk petugas dewi sri yang bertugas di pagi hari. Untuk jaga-jaga. Jikalau ada kebutuhan tiket.

Pagi, sekitar jam 7. Saya berangkat ke terminal. Ayah dan ibu memutuskan untuk ikut ke Tegal. Merindukan keluarga sejak kecil yang sudah lama ditinggalkan. Namun, waktunya hanya sebentar dibanding saya dan adik-adik yang tujuannya memang untuk liburan.

Jam 7 ini menurut saya termasuk waktu yang sudah siang untuk datang ke terminal. Karena musim liburan. Saya sudah khawatir bahwa terminal akan padat. Namun, ayah saya beranggapan karena jarak terminal yang tidak terlalu jauh dari rumah. Dan kalau pagi Pool bus belum buka. Sehingga ia memutuskan untuk berleha-leha dahulu di rumah. :D.

Benar saja, saat sampai di terminal. Kami melihat segerombolan orang mengantri sekitar 100 meter lebih untuk mendapatkan tiket bus Sinar Jaya. Edyan. Kebetulan, tiket Sinar Jaya ini mematok kenaikan harga yang tidak terlalu tinggi dari harga normal dibanding PO bis lainnya. Tiket ke tegal biasanya 70rb per penumpang, namun 80rb untuk musim liburan.

Antrian Sinar Jaya

Saya tidak terlalu peduli dengan Sinar Jaya waktu itu. Karena armada utama yang saya tuju adalah Dewi Sri. Sementara saya menunggu, ayah saya menanyakan tiket. ke PO Dewi Sri. Dan hasilnya Edan. Bus Dewi Sri harga tiketnya 130 ribu. Harga yang terbilang cukup mahal dari harga biasa. 70 rb. Hampir 2 kali lipat.

Saya moh, ora gelem untuk beli. Dan tiba-tiba ingat kalau punya kontak dari petugas Dewi Sri. Saya coba telpon. Siapa tahu bisa membantu. Setelah ditelpon beliau bilang akan menjemput kami. Sembari berjalan. Saya bertanya, berapa harga tiket Bus Dewi Sri ke tegal. Beliau bilang 80rb. Naik 10 ribu dari biasa. Hati saya lega waktu itu. Mosok seh 130rb.

Saya berjalan bersama petugas. Beliau mengantar saya ke loket Dewi Sri yang sebelumnya ayah saya sudah ke sana. Saya coba tanya, dengan sopan. Sambil membawa carrier.

“Ibu, kalau harga tiket ke tegal berapa ya”.

Di dalam loket tersebut ada 3 orang, 2 orang pria, dan 1 orang wanita. Sambil menghitung uang, dengan muka yang jutek. Perempuan tersebut mejawab dengan sinis.

“130 ribu”.

“ekonomi, atau eksekutif?”. tanya saya.

“ekonomi”

Saya kaget, loh. mahal sekali. Sinar jaya saja cuma 80 untuk ekonomi, 100rb untuk eksekutif.

Sambil merayu sedikit dengan nada yang sopan. Saya cuma tanya.

“Maaf bu, tumben 130 ribu, kalau sore biasanya dibawah 100 bu. Bisa diskon dong :D”

Sambil menghitung uang lagi, perempuan itu menjawab dengan jutek dan biangsat menurut saya.

“Yaudah, mending kamu naik bis nya sore aja, sana! Paling dapet lebih mahal!, awas belakang ngantri itu kalau gak mau beli”

Biangsaaaat, bisa-bisa nya ngomong begitu. Saya langsung pergi dari loket. Emosi memuncak namun harus tetap calm. Semenjak itu saya memutuskan untuk blacklist Dewi Sri dari perjalanan saya kalau mudik ke Tegal.

Sambil mencari alternatif lain. Saya coba antri di antrian sinar jaya yang semakin mengular. Sudah lah, daripada tidak dapat sama sekali.

Dan ayah saya mencari alternatif bis lain yang mungkin bisa lebih murah. Ternyata tidak dapat. Sudah penuh semua. Kalau pun ada, sekelas pahala kencana, yang tujuan utamanya bukan Tegal. Melainkan hanya melewati tegal. Dan harga tiketnya sesuai dengan harga tujuan.

Ya sudah, saya mengantri sekitar 1 jam. Cukup lama. Alhamdulillah, di sinar jaya dapat tiket untuk 6 orang. 5 untuk saya dan keluarga. 1 orang untuk orang yang tidak dikenal yang nitip tiket di saya :D. Dengan harga 100 ribu. Karena eksekutif. Saya memilih eksekutif untuk kenyamanan keluarga. agar perjalanan mereka lebih nyaman. Tiketnya pun tidak jauh berbeda harganya. 80 ribu untuk ekonomi.

Akhrinya Antri di Sinar Jaya

Bus berangkat sekitar pukul 08.30. Dan perjalanan memakan waktu sekitar 8 jam. Kami sampai di Tegal sekitar jam 04.30.

Alhamdulillah, perjalanan kami sangat lancar dan nyaman menggunakan Sinar Jaya. Walaupun mengantri, lelah saya terbayarkan dengan Interior kursi yang nyaman. dan pemandangan tol yang bagus.

Nyoba Carrier Baru 😀

Semenjak kejadian diatas. Saya berjanji. Tidak akan menggunakan Bus Dewi Sri untuk perjalanan travelling saya. Kapok! Cukup sudah. Kenangan masa kecil menggunakan Dewi Sri saya tinggalkan. Untuk mencoba bus yang lebih baik 🙂

Prinsipnya, yang brengsek mesti ditinggalkan :D.

Sekian cerita perjalanan berangkat saya. Tulisan selanjutanya, insyaallah saya akan menuliskan pengalaman saya ngangon kambing di tegal. Ditunggu ya!

2 thoughts on “Dewi Sri, Kita Putus!

    1. Untuk berangkat kebetulan sudah tidak kebagian tiket, boss. Untuk pulangnya saya naik tegal bahari. dan alhamdulillah nyaman walaupun ekonomi 😁. dan sekarang baru sampai bekasi hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.