Aman Dari Banjir

Banjir di awal tahun 2020 ini mempunyai kesan tersendiri untuk saya. Entah apakah saya harus senang atau sedih menyikapi hal ini.

Senang, karena ada rasa bahagia di hati bisa membuat orang tua dan keluarga ‘sedikit’ tenang ketika menghadapi hujan lebat yang tak kunjung hentinya. Apalagi jika airnya harus mampir kerumah, lewat atas, bawah, dan samping secara bertubi-tubi,

Rasa haru juga datang saat baru terbangun sekitar jam 4 pagi, saat air sudah menggenangi jalan kecil di samping rumah dan beberapa sentimeter lagi air akan masuk. Ayah mencium kening seraya mengucap. “enak ya, sekarang udah bisa tidur nyenyak”.

Saya sendiri terbangun karena khawatir air akan naik. Karena sudah bawaan setiap hujan besar pasti bangun. Alhamdulillah, dengan kuasa allah air tidak mampir ke rumah kami. Hanya menggenangi sekitar jalan gang rumah saja.

Ibu langsung menyusul dengan membandingkan keadaan rumah sebelum renovasi.

coba masih rumah yang lama, dari jam 12 udah gak bisa tidur

Yaps, itu benar-benar hal yang tidak masuk akal. Sebelum renovasi rumah, orang tua saya selalu khawatir saat hujan datang. Bangunan yang kami huni sudah cukup tua, rumah ini dibeli tahun 2004 saat kami pindah dari Kapuk Muara, Jakarta Barat. Usianya sendiri sudah hampir 20 tahun. Tembok yang sudah ‘bopak’ dan banyak retak sana-sini.

Ruang tamu sebelum di renovasi, tempat, saya, adik, nenek dan paman tidur

Saksinya adalah Pak RT, sejak bujang passion nya memang menjadi ahli bangunan. Begitu terampil, turut serta ikut membangun rumah ini saat pertama kali masih dihuni pemilik lama. Begitu juga saat rumah ini di renovasi kembali. Pak RT paham betul bagaimana bentuknya. Saat di renovasi pun, untuk merobohkannya tidak susah, akibat usia material yang memang sudah rentan.

Saat hujan tiba, ibu yang paling khawatir. Apalagi ketika saya dan ayah sedang kerja. Adik saya perempuan keduanya. Tidak ada laki-laki yang bisa diandalkan.

Saya juga ikut sedih, ketika air banjir mampir ke dalam rumah dan memaksa ibu harus merapikan seluruh ruangan yang ada di rumah karena habis tergenang. Apalagi kejadiannya di malam hari. Di mana seharusnya semua orang tidur nyenyak. Kami malah sibuk karena harus menguras air yang masuk ke dalam rumah. Tidur pun kurang dan tidak mengasyikan lagi.

Itu baru sedikit sedihnya, sebenarnya masih banyak lagi. Cerita saya bisa membangun rumah pun panjang. Banyak pertimbangan dan lainnya. Mungkin akan diceritakan pada artikel terpisah yang lebih detail.

Kemarin ibu bisa sedikit tersenyum, tidurnya hanya terkena tampias air dari luar. Walaupun masih was-was karena air di jalan gang kami sudah mulai naik. Rumah kami memang belum banyak yang di renovasi. Masih menyesuaikan dengan kemampuan. Belum di plafon, di aci, keramik, cat. Sehingga terkadang masih terkena tampias air hujan. Namun kami sangat bersyukur. Sangat bersyukur sekali, bisa terhindar dari banyak masalah yang sebelumnya dialami.

Bersyukur juga karena masih banyak orang baik yang hadir di dunia ini. Banyak pihak yang terlibat dalam memberikan bantuan moril maupun materil. Allah , selalu mengabulkan permintaan hambanya ini, meskipun sering berbuat dosa :(. Orang tua, keluarga, sahabat, rekan-rekan.

Dan perusahaan tempat bekerja. Alhamdulillah, sebagian besar biaya saat renovasi kemarin pun diperoleh dari tempat saya bekerja. Awal mulanya pun mengapa saya memberanikan diri untuk merenovasi karena pak bos memberikan nasihat kepada timnya:

Selagi orang tua masih ada, dan punya kemampuan untuk bahagiakan. Sebaiknya bahagiakan, karena tidak ada yang tahu kapan malaikat jemput orang tua kita ataupun kita“.

Mungkin, untuk saya salah satu caranya adalah dengan memberikan tempat tinggal yang layak untuk mereka. Meskipun dengan harus susah payah sekuat tenaga 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.